Home Internet Sebanyak 1 dari 8 Pengguna Internet Tidak Percaya Adanya Ancaman Cyber

Sebanyak 1 dari 8 Pengguna Internet Tidak Percaya Adanya Ancaman Cyber

864
0
SHARE

Menurut survei yang dilakukan bersama-sama antara Kaspersky Lab dengan B2B International, sebanyak tiga belas persen pengguna internet tidak percaya bahwa serangan cyber itu nyata. Mereka merasa bahwa ancaman tersebut terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan keamanan internet. Akibat ketidakpercayaan ini, mereka tidak memiliki perlindungan apapun terhadap risiko yang mengancam data dan kehidupan mayanya setiap hari.

Menurut statistik, bahkan pengguna internet yang memahami bahwa ancaman cyber adalah hal nyata juga merasa tidak yakin mereka membutuhkan perlindungan terhadap ancaman ini. Secara khusus, hanya sebanyak 22% responden yang percaya bahwa mereka dapat menjadi target penjahat cyber. Pada kenyataannya, setiap perangkat pengguna bisa menjadi target penjahat cyber. Bahkan jika pemilik tidak menyimpan data berharga pada perangkat dan tidak melakukan transaksi keuangan online, tetap saja penjahat cyber bisa memanfaatkan setiap komputer, smartphone atau komputer tablet dan mengubahnya menjadi bot untuk mengirimkan spam, melakukan serangan DDoS, atau mengirimkan tautan (link) phishing melalui instant messaging dan e-mail.

Hampir sepertiga (32%) dari pengguna internet tidak merasa khawatir bahwa rekening online mereka bisa dibobol, atau bahkan tidak menyadari risiko ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah hal ini tidak hanya terjadi di akun pribadi mereka di jejaring sosial, tetapi juga di rekening perbankan online pribadi. Berarti, dengan mudah para penjahat cyber bisa mengambil alih keuangan pribadi pengguna internet. Namun, banyak orang merasa bahwa kerugian keuangan sebagai akibat dari serangan cyber sangat tidak mungkin. Sebanyak 42% dari responden tidak menyadari atau tidak khawatir tentang kemungkinan kerugian tersebut. Satu hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa kerugian tersebut bukan berupa pencurian uang secara langsung dari rekening bank mereka. Infeksi malware juga dapat menyebabkan biaya tak terduga, termasuk biaya yang berkaitan dengan jasa perbaikan, biaya instalasi ulang perangkat lunak, atau tidak tersedianya perangkat yang dibutuhkan untuk sementara. Secara keseluruhan, sebanyak 21% dari responden yang memiliki malware pada perangkatnya telah mengalami kerugian sebagai akibat dari insiden tersebut.

Menurut hasil survei, sebanyak dua puluh persen responden tidak menyadari bahwa menggunakan jaringan Wi-Fi publik itu berisiko karena data yang dikirim melalui jaringan tersebut dapat dicegat oleh penjahat cyber. Walaupun kecil (namun sedikit lebih tinggi dari responden pertama), sebanyak 27% menyadari ancaman ini tetapi tidak percaya bahwa mereka perlu merasa khawatir tentang hal itu. Pada saat yang sama, sebanyak 55% responden tetap menggunakan jaringan publik, sebanyak 12% bahkan memasukkan identitasnya ke dalam website dan sebanyak 6% melakukan pembayaran online saat terhubung ke jaringan publik.

“Para pengguna internet yang percaya bahwa diri mereka aman karena para penjahat cyber tidak akan mengganggu mereka dan tidak tertarik terhadap mereka menunjukkan bahwa para pengguna internet ini tidak memahami sifat dari ancaman online tersebut. Hacker biasanya tidak fokus pada target tertentu, mereka mencoba untuk meraup sebanyak mungkin korban. Inilah sebabnya mengapa sangat berisiko untuk menggunakan internet tanpa solusi keamanan,” kata Elena Kharchenko ( Kepala Manajemen Produk Konsumen, Kaspersky Lab).

Untuk melindungi pengguna dari ancaman ini, pengguna bisa menggunakan aneka aplikasi sekuriti, salah satunya Kaspersky Internet Security – Multi-Device. Ini adalah sebuah solusi yang dapat melindungi pengguna terhadap ancaman terbaru internet tanpa mengganggu pengguna atau memperlambat perangkat. Produk dari Kaspersky Lab ini dapat melindungi perangkat yang menjalankan Microsoft Windows, Apple OS X, atau Google Android. Produk ini akan memblokir malware, mendeteksi situs-situs phishing dan situs yang berbahaya, memperingatkan pengguna risiko yang terkait dengan penggunaan koneksi Wi-Fi yang tidak dapat dipercaya, dan menawarkan web surfing secara aman bagi pengguna Apple iOS dan Microsoft Windows Phone.

Sumber : Infokomputer.com


LEAVE A REPLY

eight + 5 =