Home Peristiwa Agama Baha’i Agama Baru di Indonesia

Agama Baha’i Agama Baru di Indonesia

1184
0
SHARE

Agama baha’i sepertinya masih terdengar asing ditelinga masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan agama baha’i ini memang masih tergolong sedikit penganutnya khususnya di Indonesia. Seperti diketahui, hingga saat ini, Pemerintah RI hanya mengakui agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu, dalam konstitusi.

Berdasarkan keterangan yang dilansir dari web resminya, Agama Bahá’í adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Bahá’í adalah Bahá’u’lláh, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Saat ini Kemenag sedang mengkaji dan mendalami dalam hal ini apakah pemerintah berhak mengakui atau tidak mengakui suatu keyakinan agama atau bukan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter @lukmansaifuddin, Kamis 24 Juli 2014, menyatakan akan mengkaji Baha’i sebagai agama di Indonesia.

“Kemenag saat ini sedang mengkaji hal tersebut. Masukan tentang hal ini sangat berarti bagi kami,” kata Lukman dalam kicauannya di Twitter.

Agama Baha’i adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Baha’i lahir di Persia (sekarang Iran) pada abad 19. Pendirinya bernama Baha’ullah. Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Baha’i sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.

Baha’i masuk ke Indonesia sejak sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam website resmi agama Baha’i di Indonesia, dijelaskan, Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

Namun berapa jumlah pemeluk Baha’i di Indonesia hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti. Sebagai catatan, tahun 2009 lalu, ratusan penganut agama ini sempat membuat heboh warga Tulungagung. Warga menolak keberadaan mereka karena ritualnya dianggap menyesatkan. Para penganut ajaran ini meyakini kitab suci mereka adalah Akhdas.

Sedangkan salatnya berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel. Mereka salat sehari sekali, dan berpuasa hanya 17 hari.  Beberapa penganut agama ini juga tercatat di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.


LEAVE A REPLY

1 × one =